Budayakanlah Komentar yang Bermutu

Kamis, 25 November 2010

Inilah Hidup

Hari demi hari kau temani hidup ku meski kau bukan milikku
Walaupun tanpa Cinta dari mu
aku tetap kan sayang padamu
Pernah ku Coba lupakan mu, Pernah ku coba membunuh rsa ini
tapi seiring dengan semua itu, konflik batin menghancurkan hidup ku

akhir" ini aku bertanya, Tuhan, kapan ini akan berakhir?
Tuhan, kapan nyawaku akan kau Ambil?
Tuhan, kapan Rasa sayang ini Bisa terbalaskan?
Aku lelah menanti
Aku lelah melawan sepi
Aku lelah berlari dari rasa sakit hati

..................

Disini aku duduk sendiri, menunggu dia datang padaku
Dalam lelah ku ingat parasnya
cantik, Lembut bagai sutra
tanpa cacat sedikit pun
Ini Menyiksa hidupku

Tuhan, Aku tau aku bukan salah satu kesayangan mu
Tuhan, aku tau telah lari dari hadapmu
Tuhan, aku tau tlah menghianati mu
Sekarang aku ingin kembali dan Bertanya
KAPAN AKU AKAN MATI?
Tapi kau menjawab "KAU AKAN TAU PADA SAATNYA NANTI"
sungguh bijaksana
Aku terpaku mendegar itu

Semalam suntuk aku merenung apa yang harus kulakukan
Cucuran Darah dan keringat menetes dari Raga ini
Ku jauhkan semua tugas dan amanah demi merenung tentang ini

Lalu sebuah ide muncul di benakku......................
..................
..................
..................


Kan ku buat dia sayang padaku walaupun ku tau itu percuma
Setidaknya Aku bisa tetap mendengar tawa Ceria dari bibirnya
sampai pada hari saat nyawa ini pergi dari raga yang menopangnya
hari saat semua ini hilang dari hadapku
hari saat rasa sakit ini lenyap tanpa sisa
Tanpa air mata, tanpa darah, dan tanpa rasa sayang
hari saat kau sadar sebesar apa Rasa sayang ku padamu yang slama ini tidak bisa ku bendung

Mungkin sbelum berpisah, aku akan berbisik di telinga mu


"Inilah hidup, dimana Aku melawan dunia serta Tuhan.....
tapi, walaupun Aku bukan termasuk yang percaya tapi Aku masih ingin masuk Surga"

By 8173044365625364644

Minggu, 10 Oktober 2010

Apa blog ini SUKSES?
itu adalah pertanyaan yang sulit untuk ku jawab, bahkan saat ini aku tidak tau apa yang ingin ku tulis, mungkin aku memang tidak memiliki bakat di bidang jurnalistik, Saat ini hanya hatiku yang terus memaksaku menulis kata kata ini entah untuk apa
lagi pula, adakah yang akan membaca ini???
 mungkin tidak.....

akhir akhir ini aku sering bertanya pada diriku sendiri
Apakah Orangtua kita yang telah menciptakan alasan keberadaan kita, ?
entahlah, lagipula aku juga punya segudang pertanyaan lain

Apa alasan kita hidup?
apakah tuhan itu ada?
apakah Tuhanlah yang telah menciptakan kita?
apakah setiap hal di dunia ini berhubungan dengan Tuhan
apakah Bumi ini nyata?
apakah hidup ini nyata?
apakah ini adalah dunia?
apakah kita adalah kumpulan mahluk hidup terakhir di Jagad raya ini
apakah hanya kita?

ataukah hidup hanya Ilusi tanpa akhir...

SEKIAN

Kamis, 16 September 2010

Mommy, mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi…?

Dua puluh tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki,
wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Sam, suamiku,
memberinya nama Eric. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini
memang agak terbelakang. Saya berniat memberikannya kepada orang lain
saja.
Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya
membesarkannya juga. Di tahun kedua setelah Eric dilahirkan saya pun
melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Saya
menamainya Angelica. Saya sangat menyayangi Angelica, demikian juga
Sam. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan dan
membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah.

Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa
stel pakaian butut. Sam berniat membelikannya, namun saya selalu
melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Sam selalu
menuruti perkataan saya. Saat usia Angelica 2 tahun, Sam meninggal
dunia. Eric sudah berumur 4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi
semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Akhirnya saya
mengambil tindakan yang akan membuat saya menyesal seumur hidup. Saya
pergi meninggalkan kampung kelahiran saya beserta Angelica. Eric yang
sedang tertidur lelap saya tinggalkan begitu saja. Kemudian saya
tinggal di sebuah gubuk setelah rumah kami laku terjual untuk membayar
hutang. Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun.. telah berlalu sejak
kejadian itu.
Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Usia
Pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Brad, sifat-sifat
buruk saya yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah
sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang. Angelica telah
berumur 12 tahun dan kami menyekolahkan dia di asrama putri sekolah
perawatan. Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric dan tidak ada lagi
yang mengingatnya.
Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti
sebuah film yang diputar dikepala saya. Baru sekarang saya menyadari
betapa jahatnya perbuatan saya dulu.tiba-tiba bayangan Eric melintas
kembali di pikiran saya. Ya Eric, Mommy akan menjemputmu Eric. Sore
itu saya memarkir mobil biru saya di samping sebuah gubuk, dan Brad
dengan pandangan heran menatap saya dari samping. “Mary, apa yang
sebenarnya terjadi?”
“Oh, Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal
yang telah saya lakukan dulu.” aku menceritakannya juga dengan
terisak-isak. Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya. Ia telah
memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangis
saya reda, saya keluar dari mobil diikuti oleh Brad dari belakang.
Mata saya menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari
hadapan saya. Saya mulai teringat betapa gubuk itu pernah saya
tinggali beberapa bulan lamanya dan Eric.. Eric…
Namun saya tidak menemukan siapapun juga di dalamnya. Hanya ada
sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Saya mengambil seraya
mengamatinya dengan seksama… Mata mulai berkaca-kaca, saya mengenali
potongan kain tersebut sebagai bekas baju butut yang dulu dikenakan
Eric sehari-harinya. Saya sempat kaget sebab suasana saat itu gelap
sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor.
Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali saya tersentak kaget manakala
ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau.
“Heii…! Siapa kamu?! Mau apa kau kemari?!”
Dengan memberanikan diri, saya pun bertanya, “Ibu, apa ibu kenal
dengan seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di sini?”
Ia menjawab, “Kalau kamu ibunya, kamu sungguh tega, Tahukah kamu, 10
tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Eric terus
menunggu ibunya dan memanggil, ‘Mommy…, mommy!’ Karena tidak tega,
saya terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal Bersama saya.
Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah,
namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga bulan
yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis
setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu…”
Saya pun membaca tulisan di kertas itu…
“Mommy, mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi…? Mommy marah sama
Eric, ya? Mom, biarlah Eric yang pergi saja, tapi Mommy harus berjanji
kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Eric. Bye, Mom…”
Saya menjerit histeris membaca surat itu. “Bu, tolong katakan…
katakan di mana ia sekarang? Saya berjanji akan meyayanginya sekarang!
Saya tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan..!!”
Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras.
“Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, Eric
telah meninggal dunia. Ia meninggal di belakang gubuk ini. Tubuhnya
sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan
di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut
apabila Mommy-nya datang, Mommy-nya akan pergi lagi bila melihatnya
ada di dalam sana… Ia hanya berharap dapat melihat Mommy-nya dari
belakang gubuk ini… Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang
lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya di sana.”


SumberAliceya Phantomhive